Muslim Bertemu Malaikat di Saat Idul Adha Sehingga Akhirnya

Muslim Bertemu Malaikat di Saat Idul Adha Sehingga Akhirnya Murtadz
Sept. 6, 2017

Image
Kambing² siap dikurbankan di Idul Adha.

Minggu lalu, sekitar 2 juta Muslim melaksanakan ibadah haji ke Mekah. Ini merupakan pusat ibadah Islam dan salah satu dari pilar Islam, di mana setiap Muslim yang mampu diwajibkan melaksanakan ibadah haji setidaknya sekali saja di masa hidupnya. Dengan melakukan ibadah haji ini, umat Muslim berharap jiwanya bisa diampuni dan hubungannya dengan Allah menjadi semakin dalam.

Puncak ibadah haji adalah Idul Adha, yang merupakan saat tersuci bagi seluruh umat Muslim. Idul Adha juga dikenal sebagai upacara potong kurban, dan semua umat Muslim harus melaksanakan ibadah tahunan ini, yang biasanya berlangsung selama empat hari.

Upacara potong korban ini adalah untuk memperingati peristiwa dimana Abraham hampir mengorbankan putranya. Umat Muslim percaya bahwa yang dikorbankan adalah Ishmael, putra Abraham pertama yang lahir dari budak Sarah (istri Abraham) yang bernama Hagar. Di lain pihak, umat Kristen dan Yahudi percaya bahwa yang anak yang hampir dikorbankan itu adalah Ishak, putra Abraham dari Sarah (Kejadian 22). Di kedua versi kisah, Tuhan menyediakan seekor kambing sebagai pengganti korban persembahan, dan Tuhan menganggap kerelaan Abraham untuk mengorbankan anaknya sebagai tanda ketaatan dan iman yang luar biasa.

Sewaktu upacara potong kurban dilakukan di seluruh dunia Islam minggu lalu, seorang pendeta dari Bibles for Mideast yang hidup dan bekerja di daerah Asia tengah telah mengalami perjumpaan dramatis dengan sekelompok Muslim yang sedang bersiap untuk menunaikan ibadah kurban. Karena kelompok minoritas Kristen telah dan masih diperlakukan secara brutal di negeri ini, maka nama² asli mereka dirahasiakan karena alasan keamanan.

Omar dan Salahi, yang adalah pemuda² Muslim yang kuat dan bekerja sebagai tukang jagal, sedang menggiring beberapa ekor kerbau ke rumah penjagalan di pagi hari Selasa untuk dipersiapkan bagi perayaan Idul Adha sehari setelah itu. Pendeta Masih dan dua orang penginjil dari Bibles for Mideast ‘kebetulan’ bertemu dengan pemuda² Muslim itu di jalanan dan mereka pun langsung mengobrol bersama. Keadaan kebetulan bertemu itu mengingatkan perjumpaan Filipus dulu dengan seorang pembesar kasim Ethiopia di jalanan berdebu (Kisah Para Rasul 8:26-40).

Di kisah Alkitab itu, orang Ethiopia itu sedang membaca: "Seperti seekor domba Ia dibawa ke pembantaian; dan seperti anak domba yang kelu di depan orang yang menggunting bulunya, demikianlah Ia tidak membuka mulut-Nya. Dalam kehinaan-Nya berlangsunglah hukuman-Nya; siapakah yang akan menceriterakan asal-usul-Nya? Sebab nyawa-Nya diambil dari bumi." Filipus, yang sepenuhnya dibimbing Roh Kudus, menanyakan pejabat Ethiopia itu pertanyaan yang tepat. Tentunya Pendeta Masih juga mengalami bimbingan yang sama!

"Mengapa engkau membunuhi binatang² untuk Idul Adha?" tanya pendeta Masih. Sebagai ex-Muslim di negara yang mayoritas Muslim, tentunya dia sebenarnya sudah tahu jawabannya.

"Oh, ini kerbau kurban, persembahan bagi Allah seperti yang diajarkan kakek moyang kami Abraham," jawab Omar.

"Dia mencoba mengorbankan putranya Ishmael, anaknya si Hagar, seperti yang diperintahkan Allah padanya," lanjut Omar. "Tapi Allah kemudian tak mengijinkan dia membunuh putranya, sehingga Abraham mengorbankan seekor binatang sebagai penggantinya. Kami juga akan melakukan hal yang sama dengan hewan korban kami ini."

Pendeta Masih lalu menjawab, "Menurut firman Tuhan, kami tak perlu mempersembahkan segala macam binatang korban atau burung bagi keselamatan kami," jelasnya pada para pemuda Muslim itu. "Hal ini karena Yesus Kristus, sang Anak Tuhan, telah melakukan pengorbanan ini, sehingga pengorbanan² lain tak diperlukan. Dengan kematiannya di kayu salib dan kebangkitanNya dari kematian, dosa kami ditebus dan kami juga diangkat jadi anak² Tuhan. Percayalah pada Yesus dan tidak perlu lagi mengorbankan binatang² malang ini." Begitu penjelasannya tanpa tedeng aling². Tapi Omar dan Salahi menjadi murka bukan buatan.

"Kurang ajar lo bangsat kafir, beraninya lo menyuruh kami menghujat melawan Allah!" mereka berteriak-teriak kalap sambil mengayun-ayunkan pisau jagal mereka. "Gw bunuh baru tahu lo!" Pendeta Masih dan para penginjil lainnya berlari terbirit-birit menyelamatkan nyawa mereka.

Kedua pemuda pejagal itu melanjutkan perjalanan mereka ke rumah jagal. Setibanya di sana, mereka dan para asistennya mulai mempersiapkan penjagalan seekor kerbau. Setelah mengikat kedua kaki depan dan kaki belakang kuat², mereka mendorong binatang itu sampai jatuh terbaring. Omar mengeluarkan pisau jagalnya dan mengarahkannya ke leher kerbau. Tapi kerbau itu menggerakkan kepalanya dengan kuat, menyebabkan pisau meleset dari sasaran dan malahan memotong tali yang mengikat kaki² depan kerbau. Karena kaki² depannya tiba² saja bebas, dengan kuat kerbau itu menendang dada Omar, sehingga Omar terpelanting ke lantai. Dadanya retak dan darah pun berhamburan keluar.

Para penolongnya melarikannya ke rumah sakit. Saat tiba di rumah sakit, Omar sudah hampir kehabisan darah. Para dokter menyatakan dia 95% sudah mati, dan mengatakan pada para temannya bahwa sudah tak ada harapan baginya. Yang bisa mereka lakukan hanyalah merawatnya di bagian perawatan kritis dan memasukkan sejumlah darah kembali ke tubuhnya.

Selama tiga hari Salahi duduk di luar rumah sakit dan berdoa pada Allah bagi keselamatan Omar. Salahi berpikir, jika Omar mati, tentunya ini mati syahid bagi Allah dan dia bisa langsung masuk surga. Itu sudah pasti begitu, begitu pikirannya mencoba meyakinkan dirinya.

Tapi dia tidak bisa tidur. Setiap kali dia menutup mata, dia melihat dada Omar yang hancur, dan bagaimana darah keluar dari tubuhnya. Di hari keempat, Omar melakukan wudhu di saat subuh sebelum melakukan sholat. Sewaktu dia mencuci bagian² tubuhnya, dia melihat seorang malaikat berdiri di hadapannya.

"Tinggalkan semua usaha sia² yang tak berguna bagi Tuhan yang sejati yang menciptakan langit dan bumi," kata malaikat itu padanya. "Sembahlah Dia dalam Roh dan Kebenaran. Dia mengirim AnakNya yang Tunggal untuk menyelamatkan dunia. Dia adalah Yesus Kristus, sang Putra dari Tuhan yang Maha Tinggi dan keturunan Daud yang telah dibangkitkan dari kematian. Itulah pesan Injil."

Salahi hampir terkejut dengan apa yang dilihat dan didengarnya. Dia tahu imam di mesjid menyatakan wudhu sebagai persiapan untuk bertemu dengan Tuhan, tapi setelah melihat sang malaikat, dia meragukan penjelasan imam itu.

Sang malaikat berkata lagi. "Ikutlah aku. Aku akan menuntut kamu bertemu dengan para nabi Tuhan. Mereka akan membimbing kamu."

Sang malaikat mulai berjalan. Salahi seketika menghentikan kegiatan wudhunya dan mengikuti malaikat.

Salahi tidak merasa pasti apakah dia benar² berjalan atau apakah malaikat itu membawanya, tapi ketika dia akhirnya menyadari keadaan sekitarnya, dia menemukan dirinya berdiri di hadapan Pendeta Masih dan umat Kristen lainnya di gereja bahwa tanah di rumah ALG. Mereka sedang melakukan doa bersama, dan Tuhan telah memberitahu sang Pendeta tentang kedatangan Salahi, dan mereka pun lalu menerimanya. Di saat itu, malaikat itu sudah menghilang, tidak pernah dilihat kembali oleh pak Pendeta dan Salahi. Setelah itu Salahi menjelaskan apa yang terjadi pada dirinya. Pak Pendeta yang dulu adalah seorang Muslim, menyampaikan pengalaman rohaninya pula dan menjelaskan lebih jauh tentang Yesus Kristus dan keselamatan yang bisa diterima melalui Dia saja.

Di saat itu adalah Minggu pagi, sehingga kelompok Kristen itu mempersiapkan upacara ibadah. Saat kebaktian, Salahi menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamatnya, mengumumkan di depan jemaat gereja akan iman barunya. Para anggota gereja bergembira dan mereka juga berdoa bagi Omar.

Di malam harinya, Pendeta Masih, Salahi, dan beberapa umat Kristen lain mengunjungi Omar di rumah sakit. Pak Pendeta berdoa dengan perlahan bagi kesembuhan dan keselamatan Omar. Dia tidak bisa berdoa terang²an di rumah sakit dan di tempat umum manapun tanpa mengalami ancaman penindasan dari pihak Muslim. Sewaktu orang² Kristen itu berdiri mengelilingi ranjangnya, Omar membuka mata tanpa bisa mengatakan apapun.

Salahi sekarang tinggal bersama Pendeta Masih. Gereja mereka terus berdoa dan percaya bahwa tidak saja Omar yang akan diselamatkan, tapi juga seluruh Muslim di negara itu.

Diskusi di forum: Muslim Bertemu Malaikat di Saat Idul Adha Sehingga Akhirnya

Mungkin Anda juga menyukai

Ingin Selalu Mengikuti Kabar Hot Terbaru? Ikuti Kami!