Bagaimana Tuhan Mengubah Jiwa Penerjemah Irak

Bagaimana Tuhan Mengubah Jiwa Penerjemah Irak
ABBAS HAMEED| JUNE 21, 2017

Aku melihat seorang prajurit Amerika membaca Alkitabnya, dan aku jadi ingin tahu lebih jauh.

Image
Abbas Hameed

Aku dibesarkan di Iraq sebagai anak ketiga dari delapan bersaudara. Keluarga kami bukanlah keluarga tradisional Muslim pada umumnya. Ibuku adalah seorang Muslimah, sedangkan ayahku adalah Katolik. Mereka tidak memaksakan kepercayaan apapun pada anak² mereka karena mereka sendiri juga tidak serius beragama. Ayahku adalah pengusaha yang kaya, dan kami hidup nyaman di rumah yang besar, diberkati dengan beberapa kendaraan, seorang pelayan, dan lebih dari 250 kambing.

Ketika aku berusia 8 tahun, usaha ayahku mulai goyah. Tekanan pekerjaan membuanya menjadi orang yang tak menyenangkan. Dia mulai mabuk²an dan bergaul dengan orang² yang memberi pengaruh jelek padanya. Setahun kemudian ayah mengalami berbagai masalah dengan polisi setiap hari. Dia sampai² dipenjara sebanyak 20 kali.

Nasib akhirnya di penjara terjadi setelah Pemerintah menemukan fakta bahwa dia tidak menyelesaikan kewajiban militernya selama 3 tahun di pasukan bersenjata Iraq. Dia hanya setahun saja bergabung dengan tentara saat perang Iraq vs Iran, tapi dia lalu kabur.

Sebagai hukuman, dia dipenjara setahun di penjara bawah tanah, dimana dia berada di tempat yang gelap gulita, hanya diberi waktu dua menit saja setiap hari untuk berada di atas tanah. Tiada tempat mandi, tiada makanan, dan air pun hanya sedikit saja. Karena hatinya hancur berantakan oleh penderitaan itu, maka dia pun mulai menangis pada Tuhan.

Dan yang lalu terjadi adalah Tuhan merubah hati ayahku dengan mencengangkan. Keluarga kami menyadari adanya perbedaan sikap yang besar saat dia kembali dari penjara. Dia berubah menjadi seorang pekerja keras, tidak begitu mementingkan diri sendiri saja, dan secara keseluruhan merupakan pria yang lebih bahagia yang selalu tersenyum. Contohnya, seminggu setelah dia dibebaskan, ayahku dan aku pergi belanja baju² baru. Kami saat itu bertemu dengan seorang pria yang mengenakan pakaian yang compang-camping, dan sudah jelas orang itu tak punya tempat tinggal. Ayah merasa berbelas kasihan pada orang ini, dan dia melepaskan semua bajunya sampai hanya tinggal baju dalam saja yang tersisa dan dia lalu memberikan semua pakaian yang tadi dikenakannya pada gelandangan tersebut. Ayah berkata, "Orang itu membutuhkan baju²ku lebih daripada diriku sendiri." Aku berdiri dengan rasa terkejut yang besar tatkala melihat kemurahan hatinya. Di saat itulah aku menyadari bahwa kepribadian ayah telah diubah untuk selamanya.

Setelah kejadian itu, aku diam² bertanya pada Tuhan apakah Dia itu benar² ada. Aku juga berdoa, "Mohon jangan hukum aku seperti apa yang terjadi dengan ayahku, tapi tolonglah aku menjadi orang yang baik yang mencariMu."

Masa Perang

Di usia 19 tahun, aku memenuhi wajib latihan militer di akademi kepolisian Iraq. Aku kira aku telah menandatangani kontrak wamil selama lima tahun, tapi ketika aku melihat surat² wamil-ku, ternyata lama waktu wamil diubah menjadi 25 tahun. Aku marah tapi tidak berani berkata apapun karena takut dibunuh Pemerintah.

Di bulan Maret 2003, ayahku membangunkan diriku untuk menyambut tentara² Amerika yang menyerang Iraq. Karena keluargaku selalu punya rasa kagum pada orang² Amerika, aku memutuskan untuk pergi ke Tikrit dan bergabung dengan polisi militer AS. Aku bekerja sebagai petugas keamanan pada stasiun polisi dan juga sebagai penerjemah, karena aku mengerti bahasa Arab dan Inggris (tapi bahasa Inggrisku tak begitu lancar saat itu).

Beberapa bulan kemudian, para pelatih SWAT (pasukan spesial polisi anti huru-hara) dari pihak polisi militer AS merekruit anggota² polisi Iraq, dan aku merupakan salah seorang yang dipilih untuk dilatih. Aku sangat senang. Ini tentu jalan keluar dari kepolisian Iraq, dan aku selalu senang untuk bekerja bagi Amerika Serikat.

Di musim semi 2005, kami dibangunkan oleh apa yang tadinya seperti gempa bumi. Gedung terguncang ketika kami mendengar suara ledakan keras dari bom mobil. Letnan polisi mengirim kami ke daerah yang tidak dijaga oleh anggota militer. Aku ditugaskan mengatur lalu lintas dan memeriksa kendaraan² yang mencurigakan. Setelah 15 menit berlangsung, sebuah mobil yang mencurigakan meluncur ke arahku. Aku melambaikan tangan untuk memerintah mobil itu berhenti, tapi mobil itu tetap melaju ke arahku.

Aku sedang bersiap menembak pengemudi mobil ketika mobil itu – sekarang jaraknya hanya 4,5 meter saja dariku – tiba² meledak. Aku terbang ke udara, mendarat di jalanan, dan merangkak ke tepi jalan, sambil berusaha melindungi diriku dari tembakan² para prajurit ke arahku. Ketika aku mendengar "hentikan tembakan," aku mengamati keadaan tubuhku. Aku sungguh terkejut ketika mengetahui aku masih hidup, tanpa ada bagian tubuh yang terputus, terpotong, atau terbakar – hanya ada satu luka memar di bagian lututku. Tapi kepalaku terasa sakit karena tekanan ledakan itu, dan aku merasa limbung saat bangkit berdiri. Aku memandang sekelilingku dan melihat berbagai bagian anggota badan pembom bunuh diri itu berserakan di mana². Ini sungguh pemandangan yang brutal, berdarah, dan sangat menjijikan.

Sewakut berada di rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan, aku mengenang kembali apa yang baru saja terjadi di hari itu. Aku merasa sangat yakin bahwa Tuhan yang menciptakan langit dan bumi, Dialah yang menyelamatkan aku di hari itu.

Buku yang Menarik

Di tahun 2007, aku mengundurkan diri dari divisi Army’s 82nd Airborne division. Begitu aku bertemu Sersan Scott Young, aku menyadari ada yang berbeda pada dirinya. Dia memiliki sebuah buku yang selalu disimpannya di kantung celana dekat dengkulnya. Setiap kali jam istirahat, aku selalu melihat dia membaca buku itu, sehingga aku jadi ingin tahu.

Scott memberitahu aku bahwa buku itu adalah Alkitab, dan aku pun mulai membacanya setiap hari. Aku terus-menerus kembali pada Scott untuk mengajukan berbagai pertanyaan tentang apa yang kubaca. Aku sangat senang memiliki pembimbing rohani seperti ini. Yang lebih hebat lagi, Scott sebenarnya belum dijadwalkan untuk pergi berperang ke Iraq. Tapi karena alasan yang misterius, dia dikirim ke Samarra, dan lalu pasukannya digabungkan bersama unitku. Sungguh hebat rencana Tuhan!

Ketika para teroris membunuh ayahku dua bulan kemudian, aku merasa marah pada Tuhan, tapi Dia tetapi membimbingku melalui Scott. Sehari setelah menjalani missi militer, aku pergi menemui Scott dan berkata padanya bahwa aku benci pada diriku sendiri, dan aku tak mau untuk tetap menjadi diriku yang sama lagi.

Aku bertanya, "Bagaimana caranya agar aku bisa menjadi orang Kristen?"

Scott memberitahu aku untuk pergi ke tempat yang sepi dan berdoa. Dia berkata bahwa aku harus memberitahu Yesus bahwa aku ingin diubah dan menjadi orang Kristen. Dia juga berkata bahwa Yesus akan masuk ke dalam hidupku, dan memberiku harapan dan keberanian. Maka aku pun berdoa dengan sepenuh hati. Aku meminta Yesus untuk masuk ke dalam hidupku dan mengubah diriku, sehingga aku bisa menerimaNya sebagai Anak Tuhan.

Keesokan paginya, seluruh pasukan militer melihat perubahan pada diriku, sama seperti dulu aku pun melihat perubahan pada diri ayahku setelah dia sungguh² mengikut Tuhan. Pada wajahku terdapat senyuman kecil, dan aku jadi tidaklah sekasar sebelumnya. Tuhan telah melakukan perubahan yang besar dan kuat dalam diriku.

Dua minggu kemudian, aku mengepak segala barang milikku dan pergi ke Baghdad. Sewaktu bergabung dengan pihak militer AS, terdapat perjanjian bagi para penerjemah bahwa jika engkau melayani setidaknya dua tahun, maka engkau boleh pindah ke AS dan jadi warga AS. Karena aku telah bekerja pada militer AS selama lebih dari 4 tahun, aku tahu nyawaku sungguh terancam jika tetap tinggal di Iraq.

Sewaktu berada di Baghdad, ibuku, adik perempuan dan adi lakiku datang dan mengucapkan selamat tinggal. Kami bicara tentang masa depan, dan sudah jelas bagi mereka dan diriku. Keluargaku tahu bahwa mereka tak akan pernah melihatku di Iraq lagi.

Setelah tiba di AS, aku tinggal sebentar dengan komandan SWAT ku yang keluarganya, dan lalu aku pindah untuk tinggal di rumah Scott dan istrinya, Meagan, di Fayetteville, North Carolina. Di sini, aku mulai mengunjungi Pemahaman Alkitab Navigators. Aku ditantang untuk menghafalkan Alkitab, mempelajarinya dengan mendalam, dan membuat diriku berguna bagi anggota lainnya di kelompok pemahaman Alkitab itu. Setelah tinggal bersama Scott dan Meagan selama hampir setahun, hubunganku dengan Tuhan menjadi semakin dalam dan berbuah lebat jauh daripada sebelumnya.

Saat ini aku hidup di Lancaster County, Pennsylvania, bersama istriku, putra kami yang masih kecil dan putri kami yang baru lahir. Tahun lalu kami merasakan panggilan Tuhan untuk melayani. Sewaktu aku membagi kesaksianku di berbagai gereja dan barak² militer dan juga kelompok² veteran, aku memanjatkan rasa syukur dan terima kasih pada Tuhan karena telah menyelamatkan nyawaku dan membawaku dekat denganNya.
————————–

Abbas Hameed adalah pendiri Hameed Christian Ministries. Dia jadi warga AS di tahun 2011.

Diskusi di forum: Bagaimana Tuhan Mengubah Jiwa Penerjemah Irak

Mungkin Anda juga menyukai

Ingin Selalu Mengikuti Kabar Hot Terbaru? Ikuti Kami!