Muslim Kurdi dari Niniveh Kepincut Alkitab

Muslim Kurdi dari Niniveh Awalnya Menolak Alkitab, Tapi Lalu Menemukan Daya Tariknya
Oleh Esteban Orozco | July 19, 2017

Image
Kuburan Nabi Yunus yang dihancurkan ISIS di tanggal 24 Juli, 2014 di Mosul (Niniveh kuno)

Chevan dilahirkan di Niniveh, kota dimana Yunus dulu berkhotbah. Ayahnya adalah seorang imam yang bekerja di mesjid lokal, tapi Chevan tidak pernah tertarik melakukan sholat lima waktu. Dia hanya ingin bermain musik dan tertarik pada bidang seni – bidang yang dikecam ayahnya.

Dia lalu belajar tentang jurnalisme dan melaporkan berita yang didapatnya di layar TV dan berbagai film. Karena beritanya yang banyak mengecam terorisme, maka banyak Muslim teroris yang ingin membunuhnya. Mereka membunuh temannya yang merupakan wartawan olahraga hanya karena mereka menuntut pemberitaan "yang baik". Mereka tidak peduli bahwasanya penulis berita olahraga tidak ada hubungannya dengan politik.

Chevan juga tidak menulis tentang politik, tapi setelah dia menyaksikan temannya ditembak di depan matanya, dia tahu bahwa dia harus melarikan diri.

Dia lalu pergi ke Syria, lalu Mesir, lalu Dubai, dan akhirnya Lebanon. Keluarganya tahu bahaya yang dihadapinya dan mereka membiayai perjalanannya.

Sewaktu dia mencoba berkarir di bidang akting, dia menemukan pekerjaan menjual iklan bagi majalan dan dua koran. Karena pekerjaan ini dia bisa membiayai hidupnya.

Image

Suatu hari, dia sedang berjalan di jalanan yang ramai dekat tengah kota Beirut ketika dia bertemu dengan seorang pendeta yang membagi-bagi Alkitab. Sang pendeta meraih menjulurkan tangannya untuk menawarkan Alkitab padanya.

"Wah tidak ya, aku tak mau," kata Chevan. "Aku ini Muslim."

"Gak perlu jadi orang Kristen untuk membaca Alkitab," kata Pendeta Gergis. "Ini kan Kabar Baik. Baca saja seperti baca buku lain manapun."

Dua hari kemudian, pendeta yang sama bertemu lagi dengan Chevan di jalan yang lain, dan sang pendeta rupanya tak ingat dia. Kali ini Chevan merasa jengkel.

"Ini untuk kedua kalinya aku beritahu kamu bahwa aku tak mau Alkitabmu. Aku kan sudah bilang gak mau," begitu jawabnya jengkel.

Akan tetapi, sang pendeta bertemu lagi dengan Chevan di pantai beberapa hari kemudian, dan tetap tak ingat padanya, dan sekali lagi menawarkan Alkitab.

"Kau ini udah tiga kali nawarin aku Alkitab. Kali ini aku terima, bukan karena aku ingin membacanya, tapi karena aku ingin kau berhenti."

Chevan mengambil Alkitab dan membawanya ke rumahnya. Setelah itu dia mulai membaca kitab Kejadian. Dia terus membaca halaman² berikutnya dan mempelajari beberapa kitab. Dia juga membaca sebagian pesan dari kitab Wahyu. Dia membaca Alkitab itu selama dua jam. Tiba² dia ingin tahu apa sih "Kabar Baik" itu sebenarnya.

"Aku ingin membaca lebih lanjut. Aku ingin tahu rahasia dari buku ini," katanya. "Buku itu bagaikan magnet bagiku. Keesokan harinya, aku membaca lagi Alkitab, entah mengapa. Aku hanya ingin membuka dan membacanya lagi. Aku mereka ada yang ajaib dari buku ini, tapi aku tak tahu apa pastinya."

Di hari Minggu, dia menemukan sebuah iklan di koran tentang sebuah gereja dan memutuskan untuk datang ke situ. Niat awalnya adalah untuk mencari kesalahan ibadah Kristen.

Tapi sungguh "kebetulan" karena ternyata pendeta Gergis adalah gembala di gereja itu.

"Orang² begitu ramah padaku. Kukira jika mereka mendengar aku ini Muslim, tentu mereka akan mengusirku. Tapi ternyata setelah tahu, mereka tak melakukan itu. Mereka berkata bahwa gereja adalah rumah Tuhan bagi siapapun dan kapanpun. Aku senang mendengarnya."

Dua bulan kemudian, Chevan menemukan rahasia di belakang magnetisme Alkitab: ini adalah Firman Tuhan yang hidup. Tidak seperti buku² lainnya, kata² di Alkitab itu hidup dan menawarkan hidup yang baru bagi semua yang mengimaninya.

Sebagai tanggapannya, Chevan lalu menyerahkan hidupnya pada Yesus Kristus dan menerima sebagai Tuhan dan Juru Selamatnya. Saat itu usianya adalah 29 tahun.

"Tidaklah mudah bagiku untuk menerima Yesus bahkan setelah mataku dibukakan," katanya.

Dia mencintai sang pendeta dan jemaat gereja yang ditemuinya, tapi dia lalu melamar visa pengungsi pada PBB dan akhirnya diijinkan untuk hijrah ke AS.

"Aku tahu bahwa setelah aku jadi Kristen, aku jadi tak aman lagi tinggal di Timur Tengah," katanya.

Semua umat Muslim memang mengalami ancaman penindasan dari Muslim, tapi resikonya jauh lebih besar pada ex-Muslim yang beralih iman ke Kristen.

Dia berpindah-pindah di berbagai kota besar di Amerika Serikat dan selalu ikut kegiatan gereja lokal.

Aku mulai membaca Alkitab di komputer dan mendengar musik² Kristen dan khotbah pendeta² terkenal seperti Billy Graham," katanya.

Chevan telah mengikuti Kristus selama 10 tahun. "Masa depanku ada di tangan Tuhan," katanya. Aku tak tahu apa yang Dia ingin aku lakukan," katanya. "Tapi sebenarnya aku ingin jadi pendeta di Niniveh, kota kelahiranku."

Diskusi di forum: Muslim Kurdi dari Niniveh Kepincut Alkitab

Mungkin Anda juga menyukai

Ingin Selalu Mengikuti Kabar Hot Terbaru? Ikuti Kami!